Senin, 17 Oktober 2016

SIKAP SEORANG MU'MIN

SIKAP SEORANG MU’MIN
Ayat pertama Qs.An-Nisa ayat 136
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ آمِنُواْ بِالله وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِيَ أَنزَلَ مِن قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيداً -١٣٦
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya”.(QS.An-Nisa :136 )
Pada QS.An-Nisa ayat 136 Allah  Swt menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman itu hendaknya senantiasa meneguhkan keimanannya kepada Allah Swt. Iman kepada Allah artinya meyakini sepenuh hati bahwa hanya Allah saja yang Esa tidak ada tuhan selain Allah, atau dengan istilah lain kita selalu aman bersama Allah Swt karena arti iman itu sendiri mempunyai arti aman,  seseorang yang memiliki iman yang kuat tentu jiwa dan raganya senantiasa merasa bersama Allah Swt dimanapun dia berada. Jika telah demikian maka segala gerak-geriknya dia merasa diawasi oleh Allah Swt dan menancaplah keimanannya kepada Allah tak seorangpun yang dapat menggeserkan keimanannya bahwa hanya Allah saja satu-satu tuhan yang tiada serikat bagi-Nya. Sehingga seorang mukmin yang dia berkata : “Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."(Al-Ikhlas: 1-4 )
Orang-orang yang beriman juga harus meneguhkan keimanannya kepada Rasul-Nya. Iman kepada Rasul berarti meyakini sepenuh hati bahwa Allah ada mengutus para Nabi dan Rasul yang diberi tugas untuk menyampaikan risalah-Nya.

Alam semesta saja mengesakan Allah Swt, mengapa manusia melalukan kemusyrikan !
Dengan istilah lain juga bisa dikatakan bahwa iman kepada Rasul berarti aman bersama Rasul. Allah tidak pernah membiarkan umat manusia berjalan tanpa arah, sehingga menjadi sesat. Dalam setiap umat atau komunitas manusia Allah lahirkan seorang imam atau pemimpin yang menjadi pembuka jalan dan penunjuk arak menuju kebaikan. Pemimpin itu dizaman dahulu adalah seorang Rasul yang diutus Allah, karena setiap umat itu ada Rasulnya seperti yang dujelaskan Allah dalam QS. Yunus yang artinya : “Tiap-tiap umat mempunyai rasul; Maka apabila telah datang Rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya”.( QS.Yunus: 47 ) Tujuan Allah mengutus Rasul dan menjadikan mereka sebagai pemimpin sesungguhnya ada maksud yang sangat agung yaitu menjadi pemimpin yang harus diteladani karena mereka mengantarkan manusia menuju hidup yang benar bertujuan kepada Allah , berakhlak mulia dan peka terhadap lingkungan sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al-Anbiya ayat 73 :”Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”,( QS. Al-Anbiya : 73 )
Orang yang beriman dengan Rasul akan senantiasa berusaha meneladani sifat-sifat mereka yang terpuji benar/ jujur, menyampaikan ( matang ), cerdas dan dapat dipercaya, empat sifat inilah yang menjadi acuan agar kita berhasil dunia dan akhirat.
Sikap seseorang yang beriman adalah meneguhkan keimanannya kepada kitab-kitab-Nya. Iman kepada kitab artinya kita menyakini sepenuh hati bahwa Allah ada menurunkan beberapa kitab sucinya kepada Nabi dan Rasul-Nya yang wajib disampaikan kepada umatnya sebagai petunjuk hidup atau dengan istilah lain kita harus aman bersama kitab-kitab Allah Swt. Petunjuk Allah yang diberikan kepada Nabi dan Rasul adalah wahyu Allah sebagai kitab pegangan dan menjadi rujukan bagi umat manusia. Sebagaimana yang telah kita ketahui kitab-kitab suci itu adalah Taurat diturunkan kepada Nabi Musa as, Zabur diturunkan kepada Nabi Daud as, Injil diturunkan kepada Nabi Isa as dan Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Bagi kita ummat Nabi Muhammad Saw, maka kita harus beriman kepada kitab Al-Qur’an yang terdiri dari 30 juz, 114 surah dan 6236 ayat. Barangsiapa yang membacanya akan mendapatkan kualitas, memahami dan mengamalkan isinya akan dijamin selamat dunia dan akhirat, sukses dan bahagia. Bagi orang yang beriman Al-Qur’an berfungsi :
1.      Sebagai Hudallah artinya petunjuk Allah Swt, oleh karena itu kita mempunyai kewajiban mempelajari dan memahaminya untuk kemudian diterapkan dalam perilaku hidup sehari-hari.
2.      Sebagai Hudal Linnas artinya petunjuk bagi manusia, mengapa manusia perlu petunjuk karena naluri yang benar adalah naluri yang muncul atas bimbingan Al-Qur’an dan cara bertindak yang benar adalah cara yang dijelaskan oleh Al-Qur’an. Petunjuk Al-Qur’an itu berlaku universal untuk semua manusia dalam rangka melindungi 5 asas kehidupan, yaitu : melindungi agama dan keyakinan, melindungi harga diri dan kehormatan, melindungi akal dan kecerdasan, melindungi harta benda dan kekayaan, melindungi hubungan manusia dan anak keturunan.
3.      Sebagai Hudal Lilmuttaqin artinya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya maka akan senantiasa dipelihara oleh Allah Swt, karena akar kata dari muttaqin adalah waqa yang artinya memelihara, jadi barangsiapa yang merawat dirinya dengan ketaqwaan maka ia akan senantiasa dipelihara oleh Allh bahkan Allah menjamin kehidupannya dengan keberkahan dari langit dan bumi.


Bagi orang-orang yang beriman sikap yang harus dipelihara adalah beriman dengan Malaikat-malaikat-Nya. Iman kepada malaikat-Nya berarti kita meyakini sepenuh hati bahwa Allah ada menciptakan makhluk yang tercipta dari cahaya yang di beri tugas untuk mengatur dan memelihara alam semesta termasuk didalamnya manusia atau dengan istilah lain kita senantiasa aman bersama dengan  malaikat-malaikat Allah Swt. Malaikat adalah abdi-abdi Allah yang senantiasa beribadah kepada-Nya dengan ikhlas. Dalam keimanan seorang mukmin hendaknya senantiasa meneguhkan keimanan dengan para malaikat Allah ini karena mereka itu selalu berdampingan dengan kehidupan manusia dan bagi kita wajib beriman dan mengetahui 10 malaikat-malaikat dibawah ini:
1.      Jibril as, malaikat yang memiliki tugas /fungsi sebagai penyampai wakyu Allah kepada Nabi dan Rasul-Nya.
2.      Mikail as, malaikat yang memiliki tugas/ fungsi sebagai pemberi rezki.
3.      Israfil as, malaikat yang memiliki tugas / fungsi sebagai peniup sangkakala.
4.      Izrail as, malaikat yang memiliki fungsi sebagai pencabut nyawa.
5.      Munkar as, malaikat yang memiliki tugas / fungsi sebagai penanya dalam kubur.
6.      Nakir as, malaikat yang memiliki tugas/  fungsi sebagai penanya dalam kubur.
7.      Raqib as, malaikat yang memiliki tugas / fungsi sebagai pencatat amal kebaikan.
8.      Atid as, malaikat yang memiliki tugas / fungsi sebagai pencatat amal kejahatan.
9.      Malik as, malaikat yang memiliki tugas/  fungsi sebagai penjaga pintu neraka.
10.  Ridwan as, malaikat yang memiliki tugas / fungsi sebagai penjaga pintu surga.
Disamping mereka itu, Allah juga ada mengutus para malaikat-Nya untuk manusia dalam rangka tugas memelihara manusia, mereka disebut sebagai malaikat penjaga siang, malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang dan malam. Ini membuktikan bahwa manusia itu tidak lepas dari pengawasan setiap malaikat. Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam hal ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.Oleh sebab itu sangatlah keliru kalau manusia masih melakukan kemaksiatan dan kejahatan padahal kita semua ini senantiasa mendapat pengawasan dari para malaikat tersebut, orang yang merasa dirinya senantiasa diawasi oleh malaikat maka dalam kehidupan sehari-hari ia akan senantiasa berhati-hati baik dalam berkata-kata maupun dalam berbuat.
Orang-orang yang beriman juga harus menenguhkan keimanannya kepada hari akhir. Iman kepada akhir mempunyai arti bahwa kita meyakini dengan sepenuh hati setelah kehidupan didunia ini ada kehidupan yang lain yaitu kehidupan diakhirat atau dengan istilah lain kita merasa aman diakhirat nanti. Rasa aman itu kita buktikan dengan berbagai amal sholeh untuk bekal menuju alam kesempurnaan, karena hari akhir itulah alam kesempurnaan. Orang yang beriman dengan akhir tentunya mempersiapkan diri dengan amal sholeh, bukti konkrit lain bahwa orang beriman dengan hari akhir adalah belajar sampai mati sebagaimana sabda Nabi Saw : “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai keliang lahad”. Dengan belajar sampai mati menunjukkan adanya usaha untuk sampai kepada kesempurnaan dirinya mengisi waktu-waktu yang terus dilewati. Membuktikan bahwa kita beriman kepada Allah dan hari akhir harus dilakukan dengan tindakan sebagai berikut :
1.      Menyeru kepada hal-hal yang yang ma’ruf atau kebaikan.
2.      Mencecah dari hal-hal yang munkar atau keburukan.
3.      Menyegerakan kebaikan, kebergunaan atau bermanfaat.

Kurang lebih ada 19 kali pengulangan kata-kata Billahi wal yaumil akhir dalam Al-Qur’an sesuai dengan huruf Basmalah, hal ini menunjukkan bahwa untuk sampai kepada demensi kesempurnaan  atau akhir harus tetap merujuk kepada sang pemilik kesempunaan yaitu Allah Swt. Dengan demikian, orang yang beriman kepada hari akhir akan mempersiapkan dirinya dengan berbagai amal kebaikan dengan tujuan hanya kepada Allah Swt sebagai tujuan akhir hidupnya.
Pada QS. An-Nisa ayat 136 ini sebenarnya tersirat juga tentang memperteguh keimanan kepada Qadha dan Qadar Allah. Qadha adalah suatu ketentuan yang telah ditetapkan Alla pada tiap-tiap ciptaan-Nya, sedangkan Qadar adalah ukuran-ukuran atau takaran-takaran yang telah ditetapkan bagi makhluk-Nya. Beriman kepada Qadha dan Qadar berarti yakin bahwa apa yang sudah terjadi pada diri kita  adalah memang sudah ditentukan oleh Allah. Adapun qadha Allah yang belum terjadi pada diri kita maka kita tidak boleh menyerah dengan keadaan, kita harus terus berusaha dan mengejarnya sekalipun halangan dan rintangannya datang bertubi-tubi, janganlah kita menyerah pasrah tanpa usaha, dalam hal ini Allah menjelaskan dalam QS. Ar-Ra’du ayat 11 :” Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka. Oleh sebab itulah kita diperintahkan untuk berikhtiar dalam menjalani kehidupan ini.
Salah satu Qadha atau ketentuan Allah adalah yang berjalan pada diri manusia adalah kematian, sedangkan Qadarnya atau ukurannya adalah usia. Setiap diri akan mengalami kematian, hanya saja ukurannya yang berbeda-beda dan tidak diketahui, ada yang dalam kandungan, baru dilahirkan, anak-anak, remaja, dewasa dan tua, bagi orang yang beriman hidup dan mati adalah sama karena Allah Swt.
Dengan demikian, mengimani adanya qadha dan qadar dalam sebuah terapan hidup adalah bagaimana mengisi moment-moment hidup ini sesuai dengan Qadha-Nya Allah , yaitu sebagaimana kita lahir dan tercipta oleh Allah dalam keadaan sempurna , maka Qadarnya adalah kita dapat mengembalikan kesempurnaan ciptaan Allah ini dengan tindakan atau akhlak yang sesuai dengan kehendak Allah juga.
Ayat kedua Qs. Al-Baqarah ayat 23
 وَإِنْ كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَاءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ -٢٣-
Artinya: “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Dalam QS. Al-Baqarah ayat 23 Allah Swt menjelaskan kepada kita bahwa sikap orang beriman itu adalah mereka tidak meragukan kebenaran dari Al-Qur’an, karena ia merupakan wahyu Allah yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad Saw sebagai petunjuk hidup, penjelas dan pembeda bagi orang-orang yang bertaqwa bahkan bagi manusia secara keseluruhan.lihatlah penegasan Allah dalam QS.Al-Baqarah ayat 2 :
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.
Tuhan menamakan Al-Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis. Taqwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
Dalam ini, Allah Swt juga menantang manusia yang meragukan kebenaran Al-Qur’an, agar membuat yang serupa dengannya, bahkan disuruh untuk mengumpulkan manusia membuatnya, jawabnya pasti tidak ada yang sanggup membuatnya, karena Al-Qur’an itu merupakan kalam Allah yang tiada tandingannya baik dari segi bahasanya, bahkan segi kandungannya.
Ayat ketiga Qs. Al-Baqarah ayat 24
 فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ -٢٤-
Artinya: “Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.
Pada ayat 24 dalam surah yang sama, Allah Swt menjelaskan tantangan yang diberikan-Nya itu untuk membuat Al-Qur’an pastilah tidak ada satu orangpun yang sanggup membuat selama-lamanya disebabkan terhalang oleh mukjizat Al-Qur’an itu, Allah juga mengingatkan kita agar memelihara diri dari perbuatan itu dengan jalan beriman kepada Allah dan meyakini bahwa Al-Qur’an itu bukanlah ucapan manusia, bagi orang-orang yang nekat juga membuat Ayat-ayat paslu tersebut, Allah menyediakan bagi mereka neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, karena dengan dua macam bahan bakar itu maka api neraka menjadi sangat panas dan tambah menyala yang disediakan bagi  orang-orang yang kafir atau ingkar dengan kebenaran Al-Qur’an. Oleh sebab itu tidak sepantasnya bagi orang-orang yang beriman meragukan kebenaran Al-Qur’an.
Ayat ketiga Qs. Al-Baqarah ayat 28
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتاً فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ -٢٨-
Artinya: “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”(QS. Al-Baqarah : 28 )

Pada QS.Al-Baqarah ayat 28, Allah menjelaskan lagi mengapa wahai manusia kata Allah engkau masih ingkar atau kafir terhadap-Ku padahal kamu sebelumnya mati atau tidak ada karena masih berbentuk mani dalam sulbi bapakmu kemudian kamu Kami hidupkan dalam rahim ibumu dengan cara meniupkan ruh kedalam tubuhmu, masihkah engkau ingkar akan keberadaan-Ku kata Allah. Ayat ini sesungguhnya mengingatkan kita bahwa kita sebagai manusia jangan ingkar kepada Allah karena Dialah yang telah menciptakan kita, bahkan ketika kita dalam rahim ibu ketika ruh telah ditiupkan kedalam batang tubuh manusia telah berikrar bahwa hanya Allah sajalah sebagai tuhannya, perhatikan QS.Al-A’raf ayat 172 yang artinya :”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
Kesaksian kita kepada Allah Swt sebagai satu-satunya  tujuan sudah dilakukan sejak kita masih berada dalam rahim ibu. Maka tak ada satu pun manusia dimuka bumi ini yang tidak bersaksi kepada Allah, semua mengaku bahwa Allah  adalah tuhannya. Hal ini ditegaskan, bahwa sebenarnya manusia telah bersaksi tentang Allah sebagai tuhan dan tidak dapat disangkal oleh semua manusia dan tak ada celah untuk mengelak tentang perjanjian awal kita kepada Allah, itulah sebabnya kenapa Allah bertanya kepada manusia mengapa engkau wahai manusia masih kafir kepada Allah Swt. Kalau manusia masih ingkar juga dengan yang demikian, setelah engkau hidup dialam dunia apabila ajalmu telah sampai maka akan Ku-matikan lagi engkau wahai manusia, kemudian setelah lama engkau mati maka akan Ku-hidupkan kembali engaku apabila telah datang masa kebangkitan untuk mempertanggungjawabkan segala apa yang telah engkau perbuat didunia karena kepada Allah lah tempat kembali manusia. Disinilah titik kesadaran manusia seharusnya dimulai terutama sekali bagi orang-orang yang menyatakan dirinya telah beriman kepada Allah bahwa benar hanya Allah saja sebagai tuhan dan tujuan hidupnya.
Ayat ketiga Qs. Al-Baqarah ayat 208 dan 209
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ -٢٠٨- فَإِن زَلَلْتُمْ مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ -٢٠٩-
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, Maka Ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.( QS. Al-Baqarah :208-209
Sementara itu dalam QS. Al-Baqarah ayat 208 dan 209 Allah memperingatkan kembali kepada orang-orang yang beriman agar masuk kedalam agama Islam secara keseluruhan jangan setengah-setengah, maksudnya jalankanlah syari’at Islam itu secara sempurna, sebagai contoh kerjakanlah sholat secara sempurna jangan lalai atau hanya sekedar menunaikan kewajiban saja tetapi praktekkanlah nilai-nilai sholat itu juga dalam kehidupan  sehari-hari. Janganlah mengikuti jejak langkah setan, artinya bermohonlah kepada Allah dari godaan dan tipu daya setan, karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia maka ia jangan sampai dijadikan sebagai teman. Apabila kamu telah tergelincir atau menyimpang dari ajaran Islam atau tidak dapat masuk secara keseluruhan kedalam syari’at Islam setelah datang bukti-bukti yang nyata berupa Al-Qur’an dan suri tauladan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw bahwa ia adalah barang yang hak, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Tangguh hingga tidak ada satu pun yang dapat menghalangi-Nya untuk menjatuhkan hukuman kepadamu karena Dialah Hakim yang paling Bijaksana.
Karakter yang dibangun dengan memahami ayat-ayat diatas adalah sebagai berikut :
1.      Memiliki jiwa yang aman, yaitu memberikan keamanan bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya.
2.      Aman bersama Allah, yaitu senantiasa mengimani Allah Swt, dengan melakukan ketaatan kepada-Nya.
3.      Aman bersama malaikat Allah, yaitu dengan mengimani bahwa kita senantiasa diawasi oleh malaikat-malaikat Allah Swt.
4.      Aman bersama Rasul-rasul Allah, yaitu dengan cara mentauladani sifat-sifatnya yang mulia.
5.      Aman bersama kitab-kitab Allah, yaitu dengan cara mendengar, membaca, mengartikan, memahami, mengamalkan, mengajarkan dan memelihara kitab Allah.
6.      Aman bersama hari akhir, yaitu dengan cara mempersiapkan diri dengan amal kebaikan untuk dibawa ke akhirat nanti.
7.      Memegang teguh  Al-Qur’an.
8.      Bersifat jujur
9.      Memelihara diri dari api neraka.
10.  Tidak berbuat kekafiran.
11.  Masuk kedalam Islam seutuhnya.
12.  Yakinlah bahwa kita akan kembali kepada Allah Swt.
13.  Tidak berteman dengan setan
14.  Bersifat bijaksana dalam memutuskan sesuatu.
Demikianlah sikap-sikap seorang muslim agar senantiasa memperkuat keimanannya dengan jalan menerapkan hal-hal yang tersebut diatas dalam kehidupan sehari-hari, semoga Allah senantiasa menguatkan iman kita dan menjadikan kita sebagai seorang muslim yang kaffah dan menghadap-Nya kelak dalam keadaan muslim juga, amin.
TERMINO
Ø  Iman adalah percaya, aman, diucapkan dengan lisan dibenarkan dalam hati dan diamalkan dalam kehidupan.
Ø  Allah adalah berasal dari kata Al yang artinya sang dan Lahu yang artinya Dia memiliki. Allah sang pemilik, yang memiliki, pemilik
Ø  Rasul adalah utusan, orang yang menerima wahyu Allah dan berkewajiban menyampaikan kepada umatnya.
Ø  Malaikat adalah makhluk Allah Swt yang diciptakan dari nur atau cahaya yang selalu taat kepada perintah Allah Swt.
Ø  Kitab adalah buku, tulisan. Ketentuan atau ketetapan yang tampak di zhahir yang menggambarkan suatu system tertentu yang melatarbelakanginya.
Ø  Al-Qur’an adalah bacaan, kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Ø  Qadha adalah suatu ketentuan yang telah ditetapkan Allah pada tiap-tiap hasil ciptaan-Nya.
Ø  Qadar adalah ukuran, takaran-takaran yang ada pada unit-unit alam semesta dari benda yang terbesar sampai benda yang terkecil
Ø  Yaumil Akhir adalah hari akhir, hari atau dimensi dari suatu kesempurnaan
Ø  Islam  adalah menyerahkan diri, perjalanan hidup dan kehidupan yang ditentukan Allah bagi makhluk hidup berdasarkan fitrahnya masing-masing.
Ø  Kaffah adalah keseluruhan, sempurna, tidak setengah-setengah.
Ø  Kafir adalah inkar, kafir, tertutup, berpikir terbalik.

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-6303669560088871"crossorigin="anonymous"></script>





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SURGA FIRDAUS IMPIAN ORANG BERIMAN

                                                             SURGA FIRDAUS      Setiap muslim pasti ingin masuk kedalam surga dan mereka b...