Selasa, 03 Februari 2015

FUNGSI TURUNNYA AL_QUR'AN

Ramadhan adalah bulan ke-sembilan tahun Hijriyah yang sangat dirindukan dan didambakan oleh seluruh ummat manusia di muka bumi, khususnya orang-orang Islam karena didalamnya ada peristiwa yang sangat penting pada bulan tersebut, yaitu turunnya Al-Qur’an sebagai hadiah jiwa yang berisi petunjuk hidup untuk manusia.    Di bulan tersebut setiap masjid, surau / langgar banyak orang melakukan shalat tarawih dan melakukan tadarus Al-Qur’an pada malam hari. Pada siang hari melaksanakan kegiatan shaum, serta pada malam hari nampak suasana semarak dengan hiasan penerangan lampu dan pernak-pernik yang meliputinya.       Kadang-kadang itulah yang diperjuangkan oleh kebanyakan orang, dengan melakukan perayaan-perayaan yang sifatnya ritual (srimonial) tanpa makna, setiap Ramadhan tiba tumbuh para pedagang dan banyak pembeli untuk mempersiapkan diri menyambut lebaran hanya untuk memenuhi kebutuhan perut, kenikmatan dan kebanggaan, bahkan ada sekolah-sekolah diliburkan tanpa kegiatan. 
Menjelang akhir Ramadhan kebanyakan orang kesannya hanya bayar zakat fitrah dan semua serba baru terutama pakaian dan makanan enak. Peristiwa ini terulang-ulang setiap tahunnya dengan begitu besar biaya baik materi maupun non materi yang dilakukan dari nenek moyang kita, orang tua kita bahkan sampai dengan kita sekarang hampir-hampir tanpa meninggalkan  makna yang seharusnya membekas dalam jiwa.
            Sebagai generasi muda bangsa harus mempunyai tekad untuk terus belajar dan membentuk konsep masa depan dengan Al-Qur’an yang sudah terpola rasa, pikiran dan tindakannya yang pasti nyata kebenarannya.

          Dari konteks ayat tersebut dimana semua umat muslim mengetahui bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an yang menjadi petunjuk, penerang dan pembeda bagi orang-orang beriman.
            Berdasarkan terminology bahasa Arab, Al-Qur’an berasal dari kata “Qara’a” yang artinya membaca. Bila kita membaca, secara esensi sebenarnya yang dibaca hanya 2 (dua) yaitu huruf dan angka. Hal ini adalah pengalaman hidup setiap manusia bahwa apapun yang dilihatnya dan diteliti sebenarnya hanya terdiri dari dua hal yaitu huruf dan angka.         
Bila membaca kata “guru” maka terbayang di benak kitasejumlah huruf g, u, r, u menjadi sebuah rangkaian kata yang bermakna sekaligus jumlah guru yang dilihat, misalnya 1 orang atau 2 orang. Begitu juga ketika melihat ruang kelas, maka akan terbayang di dalamnya ada murid, kursi dan meja belajar yang merupakan gabungan huruf-huruf, sedangkan kondisi ruang kelas berhubungan dengan jumlah murid dengan kursi dan meja belajarnya.
          Apabila kita membaca huruf, maka akan mendapatkan sosok dan apabila membaca angka, maka akan mendapatkan jumlah.  Kalau membaca sebuah ayat dalam Al-Quran, maka yang terlebih dahulu dibaca adalah kumpulan huruf yang membentuk satu kalimat, setelah selesai membaca ayat tersebut baru menemukan angka yang merupakan nomor ayat.
Contoh sederhana,  ketika  masih kanak-kanak, kita disuruh atau diajarkan membaca sejumlah huruf dan membaca sejumlah  angka. Namun kebanyakan manusia setelah membaca angka dia justeru stagnasi sebagai mesin penghitung, menjadi penikmat berhitung-hitung untung dan rugi, yaitu suka dalam hal mengali dan menambah dan tidak suka untuk membagi karena dianggapnya rugi. Maka Al-Qur’an diturunkan Allah bagi manusia , agar manusia mampu  membaca huruf dan angka dengan kata lain mamapu membaca seluruh isi alam semesta.Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi manusia untuk menuntun perilaku hidup agar selamat di dunia dan akhirat.  Di Dalam al quran mengandung petunjuk  yaitu pengetahuan 
yang mengarahkan kejalan yang benar, penjelasan  yaitu rincian tentang pentunjuk tersebut,   dan pembeda  yaitu kemampuan membedakan tujuan yang benar atau yang salah. Al-Qur’an adalah petunjuk sekaligus penjelasan mengenai petunjuk tersebut. Dari ayat diatas, Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Agar dapat mencapai kualitas Al-Qur’an sebagai Hudan adalah ketika keadaan bathin kita Syahru Ramadhan, dimana ramadhan berasal dari kata ÙB yang artinya membakar.   Kita melakukan shaum di bulan ramadhan, bulan pembakaran, yang dibakar tentunya adalah  segala sifat buruk dan prilaku hidup kita yang tidak benar misal nya malas, iri, dengki, permusuhan dsb,  dengan demikian akan terbentuk suasana jiwa ramadhan yaitu kesiapan hati untuk menerima bimbingan langsung dari Allah Swt.  Dalam situasi Shaum, di mana pada saat itu kita dapat menahan dan mengendalikan kebutuhan yang cenderung dapat menguasai diri. Pengendalian itu sesungguhnya hendak menempatkan kembali kebutuhan sebagai support atau pendukung hidup, di samping  mengukuhkan kembali fungsi hidup manusia sebagai seorang Khalifah. Memang, semua orang yang hidup harus makan, tapi apa yang dimakan, cara memperolehnya dan bagaimana menikmatinya pasti berbeda-beda. Ini menunjukkan bahwa perbedaan antara manusia yang satu dengan lainnya bukan sekedar apa yang dibutuhkannya tapi apa yang terjadi di dalam dirinya yang telah mendorongnya untuk memilih suatu kebutuhan dan juga cara memperolehnya. Perbedaan-perbedaan inilah yang telah menciptakan berbagai fenomena kehidupan. Maka Al-Qur’an, mendorong agar manusia menggunakan potensi-potensi penting dalam dirinya karena Al-Qur’an akan memperbaiki dan mengoptimalkan otak manusia, seperti mengajak manusia berpikir logis dan menggunakan hati nurani secara tepat, menggunakan aqal untuk melakukan pertimbangan, memperhatikan agar memilih informasi-informasi yang bermanfaat, mendukung manusia untuk menuntut ilmu serta penegasan pentingnya hubungan yang harmonis antar manusia. Tidak satupun potensi hidup manusia diabaikan dan dibunuh, tapi semua harus diletakkan pada tempatnya dan dikendalikan kepada tujuannya, yaitu Allah.
Tanggung jawab hidup manusia tidak hanya sekedar untuk dirinya sendiri, tapi juga bertanggung jawab terhadap keseimbangan dan keharmonisan interaksi dengan luar dirinya. Jadi, siapapun yang menempatkan Al-Qur’an sebagai Hudan, maka akan sanggup mengatur dan mengendalikan dirinya dalam rangka keseimbangan serta keharmonisan interaksi dengan luar dirinya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Al-Qur’an hudalinnaas, petunjuk bagi manusia, petunjuk untuk mencapai Al Haq.
            Apabila setiap hari senantiasa membaca dan mempelajari Al-Qur’an, maka akan terbentuk 3 kemampuan yaitu: 
1. Hudan, dia akan selalu mendapatkan petunjuk jawaban serta penyelesaian dari seluruh     permasalahan hidupnya
2. Bayyinati minal huda, dia akan mendapatkan kemampuan berfikir yang jelas dan           wawasan dalam menjalani hidupnya.
3. Furqan,dia akan memiliki kemampuan membedakan untuk memilah dan memilih mana     yang benar atau salah dalam hidupnya.
Petunjuk bagi manusia, petunjuk untuk mengembangkan kemampuan an naas, yaitu kemampuan manusia berinteraksi dengan luar diri dalam rangka memenuhi kebutuhannya.Tentulah manusia mempunyai kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya. Manusia juga mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan menjawab tantangan hidup yang dihadapinya. Hidup mendorong manusia melakukan sesuatu, beraktifitas, bergerak bahkan mempertahankannya. Dorongan ini kadang begitu kuatnya sehingga yang diperlukan adalah keyakinan terhadap kebenaran bukan selalu membenarkan  kebiasaan Seperti kelaparan yang hanya butuh makanan, tidak peduli makanan itu baik atau tidak, pokoknya cukup yakin dan percaya.
Kebutuhan perut dan kebutuhan seks telah menjadi realita kehidupan sehari-hari. Penderitaan dan kesengsaraan mengancam kehidupan manusia bila kebutuhan tersebut 
Untuk itulah maka Allah menurunkan petunjuk bagi manusia, Hudalinnaas, seperti ternukil dalam QS. Al Baqarah ayat 185 : 
(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur

TANDA
ARTI
CONTOH
رضا
Tanpa Keluh Kesah
Cobaan apapun yang menimpa kita baik itu kesusahan ataupun kesenangan kita menjalaninya dengan lapang dada dan tidak selalu mencari hikmah dan  nilai dari apa yang terjadi.
صبر
Tanpa Batas
Apabila mendapatkan cemoohan atau kritikan dari siapa saja hendaknya jangan bersikap reaktif dan emosional.
اخلاص
Tanpa Beban
Apapun tugas yang didapat baik dari guru maupun orang tua selalu diselesaikan dengan rasa tanggung jawab.









didalamnya kecerdasan serta  dengan lapang hati, dimulai dengan membaca Surah Al Baqarah 2:185 

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-6303669560088871"crossorigin="anonymous"></script>

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SURGA FIRDAUS IMPIAN ORANG BERIMAN

                                                             SURGA FIRDAUS      Setiap muslim pasti ingin masuk kedalam surga dan mereka b...